-->
Tampilkan postingan dengan label Accounting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Accounting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Ortax

Hallooo everybody....


Setelah kurang lebih 4 bulan bekerja, dan gw sudah memposting artikel dari website pajak, postingan tersebut dikarenakan web yg bisa dibuka dari kantor gw ya cuma itu dan ternyataaa setelah 4 bulan gw kerja itu, gw nemu web selain www.pajak.go.id yg bisa gw buka

what is that???
*bener ga ya englishnya*

web lain yang bisa gw buka yaitu www.ortax.org
web apakah itu? mungkin sebagian orang tahu dan sebagian banyak orang tak tahu itu web apa

Yang belom tau boleh kok baca tulisan saya selanjutnya
hihihihi

Ortax : Observation & Research of Taxation
Website tersebut membahas tentang segala info tentang pajak
Banyak artikel dan forum yang menarik yang membahas tentang pajak
Penasaran?
Bagi yang kuliah tentang perpajakan atau ingin belajar pajak, monggo kunjungi websitenya di www.ortax.org ^^ 

Senin, 21 Januari 2013

Mengelola Biaya Dengan Memahami Pola Perilaku Biaya


Mengelola biaya, dalam operasional perusahaan, penting. Untuk bisa mengelola biaya secara efektif perlu memahami pola perilaku biaya, yang oleh para akuntan menajamen sering disebut dengan istilah “cost behavior pattern.” 
perilaku biaya (cost behavior) adalah perubahan biaya yang terjadi akibat adanya perubahan pada aktivitas usaha (cost driver).
Bagi mereka yang bekerja di suatu perusahaan, terlebih-lebih sebagai cost accountant atau management accountant, memahami perilaku biaya adalah vital, wajib, kudu.


Pentingnya Memahami Perilaku Biaya

Pada dasarnya:
  • Setiap perusahan pasti melakukan “AKTIVITAS” usaha—dalam berbagai jenis, volume dan level.
  • Setiap aktivitas usaha SUDAH PASTI mengkonsumsi sumberdaya perusahaan—yang dalam akuntansi disebut “BIAYA” atau “COST” di satu sisi; dan
  • Setiap aktivitas usaha DIHARAPKAN akan menghasilkan imbal-balik berupa ‘PENDAPATAN”
  • Target utama perusahaan, adalah: LABA = Pendapatan – Biaya
Selanjutnya, untuk mampu bertahan, terlebih-lebih memenangkan persaingan, suatu perusahaan mau tidak mau harus adaptive terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan bisnis—baik yang diakibatkan oleh faktor internal maupun eksternal. Konkretnya, perusahaan mesti siap melakukan, setidak-tidaknya , perubahan “volume aktivitas usaha”.
Untuk mempermudah pemahaman, mari kita lihat satu contoh kasus.

Contoh Kasus

Anda mengelola salahsatu resto cepat-saji terkenal KFC. Awalnya anda hanya menempati 1 lantai di salah satu gedung di bilangan Mangga Dua dengan sewa Rp 150,000,000 per tahun, mempekerjakan 10 pegawai tetap denga total gaji Rp 30,000,000 per bulan dan 10 pegawai tak tetap dengan upah Rp 20,000,000 per bulan. (Tentunya plus beban-beban lainnya yang tidak perlu saya rinci satu-per-satu)
November 2012 ada sekitar 600 orang yang makan di resto anda. Keefektifan promosi dan pemasaran anda menunjukan bahwa jumlah pelanggan restoran mengalami pertumbuhan sekitar 15% (= 600×15 = 90 orang) setiap bulannya.
Artinya apa? Akan ada peningkatan “PENJUALAN” (revenue), bukan?
Jawabannya: IYA
Tetapi peningkatan revenue saja, tidaklah cukup—yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah peningkatan LABA. Apakah laba akan meningkat?
Jawabannya: MUNGKIN.
Mengapa masih “mungkin” (belum pasti)?
Karena, LABA = REVENUE – BIAYA
Faktanya, peningkatan jumlah pelanggan sekitar 90 orang ini masih harus anda antisipasi dengan cara meningkatkan kapasitas yang memadai, minimal:
  • Menambah jumlah produksi ayam goreng
  • Menambah jumlah produksi nasi
  • Menambah jumlah produksi kentang
  • Menambah jumlah produksi minuman
Penambahan jumlah produksi ayam goreng, nasi, kentang dan minuman, tentu akan membuat “volume aktivitas” meningkat.
Nah, pertanyaannya utamanya: Bagaimana cost—yang selama ini telah terjadi—akan BERUBAH, sebagai respon atas perubahan volume aktivitas ini?
Yang kemudian diikuti dengan pertayaan-pertanyaan lain, diantaranya:
  • Biaya apa saja yang akan meningkat?
  • Berapa peningkatannya?
  • Biaya apa saja yang akan tetap?
“Perubahan cost” yang disandingkan dengan “perubahan penjualan (revenue)” akan menghasilkan perubahan “tingkat laba” (profitabilitas). Tanpa mengetahui perubahan biaya, pengelola usaha tidak akan tahu apakah perubahan aktivitas usaha “layak/tak layak” untuk dilakukan atau tidak. Jika layak, maka diteruskan. Jika tidak, mungkin perusahaan perlu mengubah strategi bisnis.
Sebelum masuk ke perilaku biaya (cost behavior), kiranya penting untuk kita tengok terlebih dahulu, apa itu “Aktivitas pemicu biaya” (cost driver)?

Cost Driver: Asal-Muasal Biaya

Secara harfiah “cost driver” = penyetir biaya.
Dalam akuntansi, yang dimaksud dengan “cost driver” adalah: segala jenis aktivitas yang memicu timbulnya biaya. Selanjutnya, ketika aktivitas sudah berlangsung, maka cost driver mempengaruhi naik turunnya biaya atau cost (=perilaku biaya/cost behavior).
Sehingga cost driver bisa dipandang sebagai akar atau pangkal penyebab timbulnya biaya. Nah, jika cost driver adalah pangkal penyebab timbulnya biaya/cost, lalu kapan cost driver muncul pertamakali? Ini penting untuk diketahui.
Cost driver yang dianggap paling fundamental—sekaligus pangkal dari segala aktivitas—menurut akuntansi manajemen, adalah: PERMINTAAN KONSUMEN (customer’s demand cost driver). Argumennya: tanpa permintaan dari konsumen suatu usaha tidak akan beroperasi.
Selanjutnya, cost driver permintaan konsumen inilah yang memicu terjadinya berbagai macam aktivitas—yang nantinya akan menimbulkan biaya/cost—di dalam perusahaan.
Apa saja jenis-jenis cost driver lainnya? Bagaimana “permintaan konsumen” ini memicu timbulnya aktivitas-aktivitas—yang nantinya akan memicu timbulnya biaya-biaya?
Para praktisi dan akademisi mungkin mengelompokan jenis-jenis cost driver dalam berbagai versi, tetapi saya tidak merasa perlu untuk membahasnya satu-per-satu. Bagi saya, yang paling mendasar (dan bagus untuk eksplorasi lebih lanjut), adalah pengelompokan cost driver ke dalam 3 kategori, berikut ini:

1. Cost Driver Struktural (Structural Cost Driver)

Cost driver struktural adalah aktivitas usaha, guna memenuhi permintaan konsumen, yang mempengaruhi biaya dalam tingkatan struktural perusahaan, meliputi: lokasi usaha, skala usaha, bentuk badan usaha, struktur organisasi, teknologi serta infrastruktur yang akan digunakan dalam menjalankan usaha.
Misalnya (masih menggunakan contoh gerai KFC):
Sebelum mendirikan gerai KFC, anda mempelajari permintaan konsumen (masyarakat luas). Berdasarkan analisa permintaan konsumen terhadap makanan cepat saji KFC, anda membuat keputusan-keputusan sehubungan dengan struktur perusahaan yang akan anda dirikan:
  • Dimana lokasi gerai anda? Anda memutuskan di daerah Mangga Dua ==> Keputusan ini mempengaruhi biaya sewa tempat usaha gerai KFC yang akan anda dirikan.
  • Berapa besar skala gerai KFC yang akan anda dirikan? Sebagai permulaan, anda memutuskan untuk mendirikan restoran KFC yang berkapasitas 200 kursi ==> Keputusan ini mempengaruhi (a) seberapa luas ruangan/gedung yang akan anda gunakan—apakah sewa atau membangun sendiri, sehingga berpengaruh terhadap biaya perolehan gedung; (b) berapa jumlah meja dan kursi yang diperlukan, sehingga berpengaruh terhadap biaya perolehan furniture dan fixture—yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap beban penyusutan setiap tahunnya; dan seterusnya.
  • Teknologi seperti apa dan dalam kapasitas seberapa besar yang akan anda gunakan? Untuk kitchen anda menggunakan mesin bertenologi Jerman pada kapasitas dan jumlah tertentu. Dan untuk sistim pengendalian anda menggunakan sistim informasi tertentu (termasuk di dalamnya keputusan menggunakan software akuntansi tertentu) ==> Keputusan ini nantinya akan mempengaruhi biaya-biaya sehubungan dengan mesin, peralatan serta sistim informasi yang akan digunakan dalam menjalankan aktivitas usaha—mulai dari perolehan, penyusutan, hingga ke biaya pemeliharaan. Dan yang tak kalah pentingnya, keputusan ini juga akan mempengaruhi kualitas output yang akan dihasilkan, tingkat kepuasan pelanggan serta tingkat efisiensi operasional sehubungan dengan penggunaan teknologi.
  • Apa bentuk badan usaha yang akan didirikan? Apakah berupa (a) usaha dagang (UD); (b) Persekutuan (CV); atau (c) Perseroan Terbatas (PT)? Katakanlah anda memutuskan untuk mendirikan PT ==> Keputusan ini akan mempengaruhi biaya legal, biaya dividend, pajak dividend, dan biaya-biaya terkait.
  • Bagiaman struktur organisasi yang akan didirikan? Sebagai permulaan anda memutuskan untuk membuat 5 jenis departemen, yaitu (a) Sales dan Marketing; (b) Kitchen; (c) Akuntansi dan Keuangan; (d) Personalia/HRD; dan (e) Teknologi Informasi (TI) ==> Keputusan ini akan mempengaruhi biaya training, biaya gaji, benefit dan bentuk remunerasi lainnya.

2. Cost Driver Organisasional (Organizational Cost Driver)

Cost driver organisasional adalah aktivitas usaha, guna memenuhi permintaan konsumen, yang mempengaruhi biaya pada tingkatan organisasional perusahaan, yang meliputi: tatakelola operasional, keuangan dan adminsitrasi.
Beberapa contoh organizational cost driver di tingkat organizational:
  • Jam operasional – Berapa jam akan beroperasi? Normalnya resto mungkin dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. ==> Ini akan mempengaruhi besarnya biaya sehubungan dengan operasional perusahaan, misal: biaya listrik, air, gaji/upah pegawai, tingkat penyusutan, maintenance dan lain sebagainya.
  • Jenis produk dan layanan yang disediakan – Paket menu apa saja yang disediakan? Apakah melayani pesanan atau tidak? Apakah melayani delivery services? Apakah ada paket-paket event (ulang tahun misalnya)? Apakah ada ‘drive through’? dan lain sebaginya ==> Keputusan ini juga akan memepangruhi biaya-biaya yang akan timbul.
  • Supplier dan rekanan (partnership) – Supplier apa saja dan berapa jumlah yang dibutuhkan? Adakah kerjamasama promosi atau cross-promotion dengan pihak lain (travel agent, gerai merchandise, dlsb)? ==> Keputusan ini juga akan mempengaruhi biaya-biaya yang akan timbul.
  • Metode/sistim kerja produksi – Dalam contoh kasus ini adalah Kitchen—mulai dari menggoreng daging ayam, membuat soup, menanak nasi, membuat minuman, membuat ice cream, dan produk-produk lainnya. Sistim kerja seperti apa yang akan digunakan di kitchen, bagaimana prosedur kerjanya? ==> Keputusan ini juga akan mempengaruhi biaya yang akan timbul.
  • Metode/sistim kerja penjualan/pelayananan konsumen – Bagaimana sistim kerja yang diterapkan di ruang saji saat melayani permintaan konsumen yang makan di restoran? Bagaimana metode kerja melayani konsumen yang beli lalu bawa pulang? Bagimana metode kerja dalam melayani delivery services ==> Keputusan ini juga akan mempengaruhi biaya yang akan timbul.
  • Metode/sistim kerja administrasi – Bagaimana prosedur tatakelola pengeluaran dan penerimaan kas, penerimaan barang, pengeluaran barang, penanganan utang/piutang dan aktivitas-aktivitas administrasi lainnya.
  • Metode/sistim kerja personalia/HR – Bagaimana prosedur tatakelola pegawai tenaga kerja? Bagimana formasi staffing (berapa pegawai tetap, berapa pegawai tak tetap, outsourcing)? Bagimana sistim rekrutmen dilaksanakan? Bagaimana sistim pengupahan, tunjangan, benefit, bonus dan remunerasi pegawai? Bagaimana sistim libur dan cuti? ? Keputusan-keputusan ini sudah pasti akan mempengaruhi biaya-biaya yang akan timbul.

3. Cost Driver Aktivitas (Activity Cost Driver)

Cost driver aktivitas adalah aktivitas usaha, guna memenuhi permintaan konsumen, yang mempengaruhi biaya pada tingkatan aktivitas yang sangat sepesifik.
Misalnya:
  • Di produksi/kitchen – Daging ayam seperti apa/jenis ayam apa yang akan digunakan? Jenis daging bagian mana saja yang digunakan? Bagaiamana caranya membersihkan daging? Bagaimana caranya menggoreng daging? Bumbu apa saja yang digunakan? Bagaimana caranya mencampur bumbu? Bagaimana caranya membuat adonan tepung? Bagaimana caranya memasukan ayam ke oven? Bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat ice cream? Dan aktivitas-aktivitas yang sifatnya spesifik.
  • Di sales/ruang saji – Bagaimana mempersilahkan tamu duduk? Bagaimana caranya mengambil dan mencatat pesanan? Bagaiamana caranya menghidangkan makanan dan minuman? Bagaimana caranya memberikan bill ke konsumen? Bagaimana proses pembayaran di kasir? Dan lain sebagainya.
  • Di akuntansi dan administrasi – Bagaimana mengambil kas di kasir lalu menyetorkannya ke bank? Bagaimana menangani perimintaan kas yang lebih dari nominal tertentu? Bagaimana menangani pembayaran yang lewat jatuh tempo, bagaimana melakukan penatatan transaksi tertentu? Dan lain sebagainya.
Setiap aktivitas dari berbagai cost driver (organisasional-structural-aktivitas), setelah perusahaan beroperasi, mengalami perubahan—beradaptasi dengan kondisi operasional perusahaan—dari waktu ke waktu. Dan setiap perubahan pada cost driver akan menimbulkan perubahan pada biaya yang timbul.
Sekalilagi, perubahan biaya sebagai respon terhadap perubahan cost driver inilah yang disebut “PERILAKU BIAYA” (cost behavior). Dan perilaku biaya, pada umumnya, BERPOLA, memiliki kecenderungan tertentu, yang dalam “garfik analisa perilaku biaya” disebut dengan “slop”.
Bagaimana pola (=kecenderungan) nya?
Sebelum masuk ke “cost behavior” saya ingin mengeksplorasi tentang “hirarki biaya”, terlebih dahulu, sehingga pada saat masuk ke pembahasan perlaku biaya (cost behavior) anda sudah memiliki dasar konsep yang cukup.

Hirarki Biaya

Ada 2 macam hirarki biaya yang lumrah digunakan dalam operasional perusahan sesuai dengan jenis usahanya, yaitu:
  • Hirarki Biaya Manufaktur
  • Hirarki Biaya Customer

Hirarki Biaya Manufaktur

Yang paling terkenal adalah kerangka kerja manufakturnya Cooper dan Kaplan. Menurut kerangka kerja ini, aktivitas—yang berbuntut biaya—di kelompokan ke dalam 4 kategori tingakatan (level):
1. Aktivitas Tingkat Unit (Unit-Level Activity) – Yang masuk dalam kategori tingkat unit adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk tiap unit produk yang diproduksi atau dijual. Beberapa contoh biaya yang timbul pada tingkatan unit, dalam manufaktur, antara lain:
  • Biaya bahan baku
  • Biaya untuk memasang atau merakit komponen/sparepart
  • Biaya penggunaan peralatan operasional
  • Beberapa biaya pengemasan
  • Komisi penjualan
2. Aktivitas Tingkat-Bundel (Batch-Level Activity) – Produksi dalam bundel (batch) biasanya ditemukan pada manufaktur-manufaktur yang menerapkan sistim penentuan biaya berdasarkan pesanan (Job Order Costing). Dalam hal ini, yang masuk dalam kategori tingkatan bundel (batch) adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk tiap bundel produk yang diproduksi atau terjual. Beberapa contoh biaya yang timbul pada tingkatan bundel, dalam manufaktur, antara lain:
  • Biaya untuk memproses pesanan (sales order)
  • Biaya untuk menerbitkan dan menelusuri pesanan pekerjaan (WO=work order)
  • Biaya untuk setup peralatan produksi
  • Biaya untuk memindahkan bundel barang antar stasiun kerja
  • Biaya inspeksi (quality control) per bundel produk
3. Aktivitas Tingkat-Produk (Product-Level Activity) – Yang masuk dalam kategori tingkat produk adalah aktivitas-aktivitas yang dapat menyokong beberapa produk berbeda sekaligus. Beberapa contoh biaya yang timbul pada tingkatan produk antara lain:
  • Biaya rekayasa dan pengembangan produk
  • Biaya pemasaran produk (biaya iklan dan promosi)
  • Biaya penyusutan peralatan khusus produksi
  • Biaya pemeliharaan peralatan khusus produksi.
4. Aktivitas Tingkat-Fasilitas (Facility-Level Activity) – Yang masuk dalam kategori tingakatan fasilitas adalah aktivitas-aktivitas untuk menjaga kemampuan produksi secara umum. Beberapa contoh biaya yang timbul pada tingkatan fasilitas antara lain:
  • Biaya untuk pemeliharaan fasilitas umum di perusahaan (misalnya: pemeliharaan gedung dan lahan parkir)
  • Biaya penyusutan untuk peralatan umum (misal: AC, mesin photo copy, komputer kantor, printer, brankas, dlsb)
  • Biaya penyusutan furniture dan fixture umum
  • Biaya pemeliharaan untuk peralatan dan furniture umum
  • Biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
  • Biaya Iklan non produk (misal: iklan lowongan kerja)
  • Biaya gaji pegawai kantor

Hirarki Biaya Customer

Hirarki biaya customer biasanya terjadi pada wilayah-wilayah yang lebih banyak berfokus pada customer dibandingkan produksi. Misalnya di perusahaan jasa, perusahaan perdagangan (trading), divisi penjualan di perusahaan manufaktur.
  • Aktivitas Tingkat Unit – Aktivitas-aktivitas yang dilakukan per satuan produk yang terjual
  • Aktivitas Tingkat Pesanan – Aktivitas-aktivitas yang dilakukan per satu pesanan penjualan
  • Aktivitas Tingkat Customer – Aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh satu customer baru atau membina hubungan.
  • Aktivitas Tingkat Fasilitas – Aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menjaga kelancaran fungsi bagian marketing.
Jika suatu perusahaan dagang melakukan pembagian segmen pasar, dan ingin melakukan analisa biaya per segmen, maka hirarki biaya customer mereka menjadi sedikit berbeda:
  • Aktivitas Tingkat Unit
  • Aktivitas Tingkat Pesanan
  • Aktivitas Tingkat Customer
  • Akiivitas Tingkat Segmen – Aktivitas-aktivitas yang dilakukan khusus per segemen.
  • Aktivitas Tingkat Fasilitas

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com

Sabtu, 19 Januari 2013

Sejarah Akuntansi


Awal Sejarah Akuntansi

Sejarah akuntansi bermula sejak dulu, sekitar 3000 SM. Para ahli arkeologi telah melakukan berbagai penelitian untuk memahami sejarah kemunculan akuntansi, dimana dirintisnya dan kapan mulai digunakan. Hasil dari penelitian-penelitian arkeolog menunjukkan bahwa prinsip akuntansi telah digunakan sejak dahulu. System yang menjadi nenek moyang prinsip akuntansi yang kita kenal sekarang itu disebut double-entry bookkeeping atau pembukuan pencatatan berpasangan. Dimana system ini diperlengkap oleh seorang akuntan bernama Amatino Manucci, yang juga didaulat sebagai akuntan pertama.
Double-entry bookkeeping ini merupakan tanda peradaban yang maju. Itu karena pembukuan telah mengenal seni pencatatan, aspek aritmatika melalui hitung-hitungan yang sederhana, pengelolaan uang, system perdagangan yang maju, dan pembedaan harta dagang dengan mempertimbangkan aspek kepemilikan pribadi dan modal pedagang.
Selanjutnya, penelitian-penelitian arkeologi membuktikan bahwa sejarah akuntansi dimulai si Timur Tengah. Pedagang Arab dan pedagang Mesir  adalah orang-orang yang pertama kali membuat system pembukuan pencatatan berpasangan dalam pengelolaan keuangan perdagangannya.
Bangsa Arab disebut sebagai pionir, lantas mengembangkannya dengan memperkenalkan proses pencatatan berpasangan tersebut kepada para pedagang Mesir. Dalam perkembangannya, system pembukuan pencatatan berpasangan menjadi system pembukuan standar yang digunakan para pedagang Timur Tengah.
Seiring berjalannya waktu, perdagangan di wilayah Timur Tengah meluas ke Benua Eropa. Oleh karena itu, system double entry bookkeeping mulai digunakan di Eropa. Pembukuan yang merupakan nenek moyang akuntansi ini kemudian dikembangkan di tangan orang-orang Eropa.

Sejarah Akuntansi di Eropa
            Dari tangan pedagang Timur Tengah, warisan intelektual nenek moyang ilmu akuntansi ini dikembangkan oleh bangsa Eropa, khususnya Italia. Sejak 1495, ilmu akuntansi mulai popular digunakan karena logika matematisnya mudah dipahami dan bermanfaat dalam mengelola keuangan.
            Para cendikiawan Italia yang tertarik akan ilmu ini kemudian membuat teori teori baru dan para pedagang menuliskan pembukuan pencatatan berpasangan dalam pengelolaan perdagangan mereka. Salah satu buku pencatatan berpasangan yang tertua ditemukan di Genoa. Buku tersebut menunjukkan tanggal tanggal pada tahun 1340.
            Kemudian, muncullah Luca Pacioli (1445-1517) yang berkontribusi dalam perkembangan pencatatan keuangan di Italia. Ia adalah seorang pastur yang berasal dari ordo Fransiskus. Pada 1494, ia menulis buku berjudul “umma de Arithmetica Geometria,Proportioni et Proportionalita”.
            Di buku itu terdapat sebuah bab bertajuk “de Computis et Scripturis” yang memaparkan informasi dan teori teori mengenai pembukuan pencatatan berpasangan. Dalam bab tersebut, ia menjelaskan, “Dalam rangka menyediakan informasi kepada para pedagang tentang keadaan harta dan utang-utangnya, sistem pencatatan debit dan kredit (adebeo dan credito) dipakai.
            Semua pencatatan arus keluar masuk uang harus berpasangan (debit dan kredit). Artinya, apabila Anda mencatatkan kreditor, Anda harus mencatatkan debitor juga di sampingnya.
            Luca Pacioli juga membuat teori mengenai penggunaan tiga jenis buku dalam pembukuan, yakni sebuah jurnal, sebuah memorandum, serta sebuah buku besar. Ia juga mencetuskan penghitungan laba dan penutupan buku setiap satu periode. Penghitungan berdasarkan periode ini, merupakan gagasannya setelah melihat bahwa saat itu umur perusahaan perusahaan bisnis tidak pernah panjang.
            Pacioli menyarankan kepada para pemilik perusahaan bisnis untuk menutup buku dan membuat laporan laba setiap tahun agar pencatatan semakin rapi dan hubungan antara perusahaan dan mitra kerja semakin erat mengingat pencatatan keuangan yang transparan dan terkelola dengan baik. Buku teori dan prinsip akuntansi serta pengelolaan keuangan karya Pacioli ini kemudian dipubliskan dalam bahasa Inggris di London pada 1543.
            Selain Pacioli, ada nama nama lain dalam perkembangan sejarah akuntansi. Salah satunya adalah John Mellis. Ia menulis sebuah buku praktis pada 1588 mengenai perkembangan prinsip prinsip akuntansi. Ia mengklaim dirinya sebagai pembaru dan pengembang teori teori Luca Pacioli.

Sejarah Akuntansi Pada Abad-Abad Selanjutnya
            Setelah muncul beberapa nama yang berkontribusi dalam perkembangan sejarah akuntansi, ilmu akuntansi terus mengalami perkembangan. Perkembangan ilmu akuntansi terjadi karena semakin kompleksnya proses perdagangan di dunia ini.
            Pada abad ke-16, para pedagang dan cendekiawan melakukan perubahan di sana-sini dalam teknik pembukuan. Pada abad ini, lahirlah pencatatan jurnal-jurnal khusus. Jurnal khusus berisi transaksi transaksi yang khusus terkait dengan satu jenis pencatatan, misalnya jurnal khusus pembelian atau jurnal khusus pengeluaran kas.
            Pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, sebuah evolusi dalam pembuatan laporan keuangan periodic terjadi. Jenis-jenis akun pun semakin beragam dan kompleks karena akuntansi semakin banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang barang dan metode perdagangan beragam.
            Perkembangan akuntansi tidak terlepas dari berkembangnya East India Company pada abad ke-17. Ilmu akuntansi semakin banyak dibutuhkan sehingga para akuntan  memiliki status yang baik dan ilmu akuntansi semakin berkembang. Pada saat itu muncullah gagasan penghitungan akuntansi biaya.
            Selanjutnya, pada akhir abad ke -17 dan abad ke-18, para cendekiawan ilmu akuntansi melakukan suatu evaluasi personifikasi atas seluruh akun dan jenis transaksi. Evolusi ini dilakukan sebagai langkah rasionalisasi aturan pemasukan debit dan kredit bagi akun akun yang tidak jelas hubungannya dan abstrak jenisnya. Pencatatan aktiva tetap atau harta tetap juga mengalami evolusi metode pada abad ke-18.
            Seiring dengan terjadinya revolusi industri di Inggris pada abad ke-19, akuntansi biaya yang sebelumnya hanya berupa gagasan mulai muncul dan dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan industri dan perusahaan perusahaan dagang. Lantas teknik teknik akuntansi berkembang dengan adanya metode pembayaran yang disebut pembayaran di muka. Pencatatan laporan dana dan laporan laba juga mengalami perkembangan yang positif dan signifikan pada abad ini.
            Pada abad ke-20, khususnya pada pertengahan dan akhir abad, akuntansi berkembang menjadi semakin kompleks.Akuntansi tidak hanya digunakan oleh perusahaan dagang atau industri, tetapi juga digunakan untuk menghitung laba saham, membuat pencatatan keuangan perusahaan jasa, menghitung inflasi, dana pension, hingga rekayasa keuangan.

Sejarah Akuntansi –Era komputer
Perkembangan teknologi dan informasi pada akhir abad ke-20 membuka lembaran baru dalam sejarah komputer . Seiring dengan menjamurnya penggunaan komputer di perushaan –perushaan sejak akhir pada abad ke-20, bidang akuntansi.Perangka-perangkat lunak ini pada dasarnya berfungsi untuk memudahkan akuntan membuat laporan keuangan (mulai dari neraca hingga laporan akhir keuangan).
Kelebihan dari perangkat lunak akuntansi adalah program komputer ini dapat meminimalisasi human error yang mungkin terjadi dalam pencatatan akuntansi manual yang telah dilakukan selama berabad-abad.Selain itu, perangkat lunak akuntansi juga membantu pengerjaan laporan keuangan menjadi lebih cepat sehingga produktivitas kinerja perusahan meningkat.
Hingga saat ini, jenis-jenis perangkat lunak akuntansi terus bertambah dan berinovasi menyesuaikan kebutuhan perusahaan-perusahaan.Ada banyak perangkat lunak akuntansi yang dapat digunakan oleh suatu perusahaan baik yang berbayar(harganya beragam mulai dari puluhan ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah)maupun gratis.
Salah satu perangkat lunak akuntansi tertua adalah program MYOB.Diluncurkan pada 1991 di Australia,perangkat lunak akuntansi buatan perusahaan aplikasi komputer bernama Data Tech Software ini tercatat sebagai salah satu program akuntansi pertama yang membantu kegiatan pengolahan transaksi akuntansi hingga menjadi laporan keuangan
MYOB menginspirasi berkembangan inovasi –inovasi lain di bidang perangkat lunak akuntansi: Program ini tercatat dalam sejarah akuntansi sebagai program tertua.